6.10.09

Kenikmatan Si Pemotret

Kris, adikku, baru saja membeli kamera digital baru. Barang yang sebetulnya sudah aku incar, terutama sejak kamera tersayang digondol maling beberapa bulan yang lalu.

Beberapa tahun aku berupaya menyisihkan sedikit dari penghasilanku untuk membeli kamera DSLR. Sebelum itu, aku cukup berpuas hati dengan beberapa kesempatan untuk memegang kamera pinjaman. Kamera yang cukup lama ada di tanganku adalah Nikon D70 milik dua orang teman: Mba Okol dan Jimbong. Lama aku berharap salah satu dari mereka akan melepas barang kesayangan mereka itu. No luck *wink, Mba*

Entah bagaimana, di satu hari di Bulan Februari, ada keinginan mendadak yang muncul begitu saja untuk langsung pergi ke BEC dan membelanjakan salah satu pos tabunganku untuk kamera DSLR itu. Aku anggap ini adalah hadiah bagi diriku sendiri. Tidak banyak survey yang aku lakukan. Harga adalah pertimbangan utama. Maklum, aku ini bukan pemotret andal, hanya seseorang yang menyukai potret. Kalau saja potret aku menghasilkan uang, barangkali aku akan lebih gigih menabung.


Aku sempat berbicara dengan beberapa rekan yang aku tahu punya foto-foto yang luar biasa. Dinda, Buyung, Dita adalah tiga diantaranya. Pembicaraan dengan mereka membuat aku cukup percaya diri untuk membeli Canon EOS400D sebagai pendamping kamera pocket aku saat itu, IXUS 75. Aku bertekad untuk pelan-pelan menabung membeli lensa sementara aku harus terus mengasah kemampuan aku memotret dengan lebih baik, lebih tajam dan lebih berbicara.

Sayang sekali, dua kamera itu sama-sama digondol maling. IXUS75 itu hilang di Noi Bai International Airport di Hanoi di pertengahan tahun lalu. EOS400D itu diembat tanpa ijin dari mobil yang tengah diparkir di depan rumah di tengah hari bolong di sebuah akhir pekan di Bulan Juli.

Sekarang, aku harus cukup puas dengan IXUS860IS. Sebuah kamera pocket yang tentu saja jauh dari kesan profesional. Kamera ini selalu aku bawa kemana-mana. Sudah lama memang, aku punya kebiasaan untuk selalu membawa kamera pocket di dalam tas. Bentuknya ringan dan pemakaiannya mudah. Aku bisa merekam banyak hal dari kehidupan sehari-hari aku. Kamera ini juga punya fitur menarik seperti color accent, salah satu menu favorit aku. Layar yang lebar adalah faktor utama mengapa aku membeli kamera ini setahun lalu, layar yang sama besar dengan layar IXUS75.

Kalau membandingkan hasil kamera pocket dengan kamera DSLR, aku sering kesal. Rasanya berbeda. Tapi, dipikir-pikir lebih lanjut, ini adalah tantangan untuk mengasah "rasa" dalam mengambil potret.

Aku tidak pernah belajar komposisi. Untuk yang ini, aku suka dapat bisikan dari Iman. Aku tidak punya pengetahuan mendalam tentang berbagai teknik fotografi dan juga kamera. Beruntung aku mendapat buku menarik dari Kiki tentang ini. Rencana untuk ikut salah satu pelatihan foto jurnalistik itu pun gagal karena keteloderan melihat tenggat waktu pendaftaran. Aku hanya tahu kenikmatan yang diperoleh dari foto-foto itu.

Aku tidak punya kategori foto bagus. Maklum, aku ini pemotret amatir yang hanya berfoto untuk menyenangkan diri sendiri. Tetapi aku tahu, foto-foto mana yang membuat aku bahagia dan foto-foto mana yang sama sekali tidak memberi dampak apapun buat aku. Aku berterimakasih pada para pemotret jempolan itu, sudah memberi kenikmatan visual buat aku.

Kalau kalian kebetulan lihat-lihat foto jepretanku, silahkan kasih komentar supaya aku bisa terus mengasah asa lewat foto. Sementara itu, aku harus cukup puas dengan kamera DSLR pinjaman dari Kris atau Abang sambil menabung untuk bisa beli kamera lagi.

Labels: ,

25.9.09

Sebuah Whitney Houston Moment


Aku besar dengan lagu-lagu Whitney Houston. Maklum, generasi delapan puluhan ini tidak punya banyak pilihan. Saat ini, musik yang aku dengar sangat tergantung pada apa yang diputar di radio. Tidak ada pilihan di televisi yang hanya ada satu, dan pilihan lagu di Aneka Ria Safari itu adalah lagu-lagu semacam pulangkan aku pada orang tuamu.

Semalam gara-gara flu, aku terpaksa mendekam di rumah dan membuat aku membongkar koleksi CD, terutama CD di bagian bawah. Yup, aku memutuskan bermain-main dengan mesin waktu. Aku memilih CD lama, antara lain CD dari Whitney Houston.

Ada banyak lagu-lagu Whitney yang popular. Dari lagu bertempo cepat sampai lagu mellow semua kumplit. Berhubung sudah malam dan sedang setengah tidur-tiduran di sofa, lagu mellow tampak lebih pas.

Dan, ya ampun, ternyata aku masih bisa ingat lirik dari lagu-lagu Whitney!

Aku mulai dengan memasang lagu Saving All My Love For You. Rat, masih inget gak, waktu kita bahas apa sih maksudnya lagu ini, sekitar hmmm, 10 tahun lalu? ;)

Semalam, aku asik ikut bernyanyi lagu-lagu Whitney. Kalau saja aku ada di tempat karaoke, sepertinya aku paling tidak mendapat angka 90!

Buset. Aku betul-betul bisa mengingat. Ternyata otak aku memang punya kapasitas mengingat ya.


***

Beberapa bulan terakhir, aku sering main ke berbagai tempat karaoke. Sebagian besar sih bersama keluarga. Kami biasa pilih macam-macam lagu. Lagu lama sampai lagu terbaru semua bisa dipilih. Aku biasanya paling parah untuk mengingat lirik. Bahkan untuk mengingat lagu-lagu baru yang terkadang pendek dan kata-katanya juga cuman itu-itu saja. Seperti lagu kelompok Kuburan yang berjudul Lupa atau lagu Melly yang hanya berisi kalimat “I love you”.

Di acara makan malam ulang tahun ayahku, aku dan adik-adikku memutuskan menyanyikan sebuah lagu rohani yang sebetulnya lagu yang cukup sering dinyanyikan di gereja. Tapi kami semua tokh lupa lirik lagu tersebut. Untunglah ada teknologi. Blackberry dan google membantu kami dengan lirik lagu tersebut.

Barangkali itu yang menyebabkan otakku sedikit malas mengingat. Hari gini, urusan mengingat lirik adalah hal sepele. Tinggal lihat di internet semua tersedia.

Coba aja 15 sampai 20 tahun lalu, cari lirik lagu itu bisa sampe berjam-jam dan penuh usaha!

Aku masih inget, duduk di sebelah radio atau tape, mencoba mencatat setiap kata dari sebuah lagu. Lebih berat lagi kalau itu lagu berbahasa Inggris. Maklum, disini lidah Indonesia. Bahasa Inggris itu bahasa ketiga atau keempat setelah Bahasa Sunda dan Batak (yuk mariii). Tidak heran, kalimat yang berhasil aku tulis kadang-kadang sangat aneh, biasanya pasti karena aku salah mendengar. Waktu SMA, aku suka tukar-tukaran lirik lagu dengan Lia. Aku punya koleksi lirik lagu yang lumayan banyak. Ditulis dengan cantik, lengkap dengan tulisan warna warni dan gambar-gambar warna warni yang tidak penting.

Ah, rasanya aku bisa lihat semua buku itu. Entah kemana perginya buku-buku itu.

Bisa jadi, karena musti usaha dan juga barangkali karena otakku masih segar dan masih punya kapasitas yang besar, aku bisa mengingat lagu-lagu itu sampai sekarang. Aku juga kaget, kok bisa aku mengingat lagu-lagu ini; the greatest love of all, one moment in time, I have nothing, didn’t we almost have it all. Lagu dengan lirik mendayu-dayu dan beda banget dengan lirik lagu penyanyi perempuan seperti Beyonce yang begitu kuat. Ah, hidup lagu jadul, deh.

***

Ngomong-ngomong, Whitney Houston sekarang dimana sih? Menghapal lirik dan menyanyikannya sih masalah sepele tapi lagu-lagu Whitney itu lagu-lagu besar yang sulit dinyanyikan dengan sukses kecuali oleh penyanyi sekaliber dia. Aku sih cukup puas bernyanyi tingkat rumah deh, hanya untuk kuping sendiri, kalangan super terbatas.

Bagaimana dengan kamu? Apa masih hapal dengan lagu-lagu jadul tahun delapan puluhan yang liriknya panjang dan gombal banget itu?

Labels:

1.7.09

As Long As We Have Music

For as long as I have music
As long as there's a song for me to sing

I can find my way, I can see a brighter day

The music in my life will set my spirit


Aku pikir, itu juga yang ada di benak setiap kawan kawan aku yang sedang dalam perjalanan ke Eropa dalam rangka ITB Cultural Tour (ICT) 2009. Sebuah perjalanan yang dinilai cukup ambisius, yang memakan energi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Perjalanan yang memakan waktu dalam proses rencana dan persiapan dan juga uang yang tidak sedikit.

Sebelum berangkat, paduan suara ini menyelenggarakan dua kali konser pre-kompetisi. Dua kota dipilih: Bandung dan Jakarta.

Aku berkesempatan menonton konser yang terakhir. Diselenggarakan di Jakarta tanggal 12 Juni yang lalu. Walaupun molor, aku menikmati pertunjukan selama lebih dari dua jam itu. Terlepas dari berbagai kekurangan ini itu, aku menikmati setiap lagunya. Sama seperti aku menikmati film di bioskop dan show di Java Jazz Festival. Perasaanku bercampur aduk. Ada lagu yang membuat aku merasa bahagia, sedih, senang dan juga deg degan!

Ada rasa cemburu melihat teman-teman berada di panggung, tetapi juga ada rasa lega bahwa aku berada di deretan penonton. Kali ini, aku bisa menikmati Mas Indra memimpin teman-teman, menikmati komposisi lagu yang dibawakan, menikmati kostum yang indah dan juga musik yang membuat aku melupakan kepusingan urusan pekerjaan (walaupun aku disana bersama beberapa kawan-kawan dari kantor).

Pada saat yang sama, aku juga merasa kuatir bagaimana mereka akan bisa berangkat untuk ITB Cultural Tour dengan urusan duit yang belum selesai, dengan jadwal kompetisi dan konser yang begitu ketat, dengan perjalanan yang berat! Kawan-kawanku itu harus mempersiapkan bukan saja fisik tetapi juga mental. Aku masih teringat perjalanan kami ke China beberapa tahun lalu. Untuk hanya ikut satu kompetisi besar di satu kota saja, fisik dan mental cukup terkuras. Kali ini, mereka harus melakukan 27 performances, di 21 kota, di 5 negara dalam kurun waktu sekitar 3 minggu saja.

Setelah konser, aku merasa yakin mereka akan mampu melakukannya. PS ITB telah melangkah begitu jauh. Dalam perjalanannya, PS ITB telah terus bertumbuh melewati berbagai jatuh bangun, pujian dan cercaan, mahasiswa yang semakin cepat datang dan pergi, urusan uang yang tidak pernah selesai dan berbagai hal lain. Perjalanan ini akan menjadi satu titik baru dalam sejarah PS ITB. Perjalanan ini bisa jadi ambisius tetapi semua daya dan upaya sudah dikerahkan untuk itu.

Selama ada musik, kita pasti akan selalu menemukan jalan!

Selamat berjalan dengan musik, teman-teman.

When the dreams I keep inside me
Seem to fade and almost die
Then I call upon my music
And it helps to dry my tears
And I know that I can make it
I'll go on despite my fears

As long as WE have music!

Labels:

29.6.09

Maling Pemberi Pelajaran

Finley the Fire Engine. That’s the sound, the sound of his sirens. Finley the Fire Engine. Here comes Finley, it's time to play.

Kami sedang menonton film anak-anak tentang mobil pemadam kebakaran itu sambil menyanyikan lagu pembuka. Kami semua; Aku, Salva dan Jiro tertawa-tawa melihat aksi lucu mobil pemadam kebakaran. Aku ingat, kami sedang menonton episode dimana Finley kedatangan mobil pemadam kebakaran kecil bernama Henry.

Tidak disangka, pada saat kami sedang menikmati hari libur itu, pencuri juga sedang mengincar mobilku yang diparkir di depan rumah! Episode itu belum lagi selesai, ketika seorang tetangga berteriak memberitahu bahwa kaca mobilku pecah. Kami semua bergegas keluar rumah, hanya untuk mendapati bahwa tas plastik berisi pakaian yang kotor sudah hilang. Beberapa menit kemudian aku menyadari bahwa kamera Canon 500D dibawa si maling. Tambahan beberapa menit lagi, aku ingat bahwa tas kecil tempat aku menyimpan hard disk eksternal, dua buah SD card, berbagai kabel charger, modem eksternal semuanya sudah digondol.

Aku hanya bisa terdiam.

Berbalik badan, aku memutuskan untuk tidur. Aku membiarkan adik-adikku membereskan pecahan kaca dan pergi ke bengkel untuk memperbaiki kaca mobil yang rusak. Aku tidak pergi ke kantor polisi, karena untuk itu aku harus membayar laporan, kehilangan dan barang-barang yang hilang tidak akan pernah kembali. Kemudian aku diberitahu, bahwa kasus aku bukan yang pertama yang terjadi di jalan itu.

Pada awalnya, aku berpikir bahwa aku lebih rela melepas baju-baju yang hilang ketimbang kamera tersayang, yang merupakan kado ulang tahun dari diriku sendiri. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku sedih sekali kehilangan baju-baju itu. Aku bukan pecinta merk pakaian, tapi baju-baju itu tanpa disadari adalah baju ber-merk dengan harga yang lumayan yang sangat aku sukai karena pakaian itu melekat pas di badanku dan membuat aku merasa cantik. Sampai dua hari sesudahnya, rasa sakit masih aku rasakan setiap kali aku membuka lemari pakaianku. Ini membuat aku sadar, betapa kuat keterikatanku terhadap benda-benda yang sebetulnya hanyalah sebuah benda mati!

Aku terhenyak. Betapa banyak benda mati yang aku beli dan bisa membuat aku bahagia, tetapi semuanya adalah benda mati dan pada akhirnya hampir selalu bisa dibeli. Benda-benda itu juga tidak lebih berharga dibandingkan keluarga dan sahabat yang ada di sekitarku. Mereka tidak bisa aku beli dengan harga berapapun. Kehilangan mereka tidak bisa tergantikan.

Aku kemudian teringat pada file-file yang ada di hard disk eksternal itu. Seluruh file personal aku ada disana. Termasuk ribuan foto yang aku ambil selama beberapa tahun terakhir. Aku jarang mencetak foto, lebih banyak disimpan dalam bentuk file. Di hard disk tersebut juga tersimpan seluruh file pekerjaan dan tulisan aku. Kapasitas penyimpanan di komputer jinjing aku sangat terbatas, jadi beberapa waktu lalu aku memutuskan memindahkan semua ke hard disk eksternal. Kehilangan file itu membuat aku sungguh lemas. Apalah arti file itu buat si pencuri, tetapi file itu sangat berarti buat aku. Tetapi kemudian aku berpikir, kalau aku tidak cukup perduli untuk memindahkan file itu ke dalam DVD dan mencetak foto-foto tersebut, barangkali aku memang tidak cukup perduli dengan file-file tersebut.

Dan, berbicara tentang kenangan yang ada di file tersebut, mudah-mudahan ingatan aku cukup bersahabat untuk menyimpan semua kebahagiaan yang tersimpan dalam bentuk file itu di dalam ingatanku.




***

Aku teledor. Aku harus menerima fakta bahwa aku teledor. Terlepas dari keheranan semua orang,"Kok kakak bisa meninggalkan barang di mobil, biasanya kakak yang paling galak untuk tidak meninggalkan apapun di mobil." Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Aku tidak mengerti kenapa aku begitu. Aku bahkan nyaris meninggalkan tas (dengan dompet dan telepon genggam) di dalam mobil, kalau saja di detik-detik terakhir aku memutuskan untuk membawa tas ke dalam rumah. Apapun itu, sudah terjadi. Aku teledor dan itu membuat aku kehilangan banyak hal yang berharga buat aku.

Aku juga tidak bisa terima bahwa ini adalah bagian dari "amal". Aku tidak ingin meneriakkan amal yang aku lakukan. Itu tidak lagi menjadi amal kalau begitu. Amal adalah ketika aku dengan sadar menyadari bahwa aku harus berbagi kepada mereka yang tidak seberuntung aku sehingga ada keseimbangan. Itu aku lakukan dengan senang hati, karena aku sadar, semua hanya titipan dan aku dianugerahi banyak hal sehingga bisa memiliki sedikit kelebihan. Kalau itu dipaksa, itu bukanlah amal.

Hanya saja, aku musti mengakui bahwa kejadian ini membuat aku diingatkan bahwa aku mulai lupa bahwa semua yang aku miliki adalah anugerah. Aku bisa mendapatkannya karena aku diberi kesehatan dan kesempatan.

Sangat mudah untuk bersyukur ketika aku sehat dan bahagia, tetapi bisakah aku bersyukur ketika Tuhan mengijinkan aku disentil karena keteledoran aku? Mampukah aku melihat bahwa kejadian ini sangatlah kecil dan ringan dibandingkan kehilangan orang-orang yang aku sayangi? Sanggupkah aku bilang, terimakasih Tuhan, Engkau tidak lelah mengingatkan aku untuk tidak teledor, untuk tidak terikat kepada barang-barang mati ini dan untuk selalu menikmati dan mensyukuri berkat yang aku terima?


***

Bohong kalau aku bilang aku tidak merasa marah kalau ingat ini semua, tetapi aku punya orang-orang yang begitu mengasihi aku dan setia menemani aku dalam kondisi ini. Seperti kata adikku,"berarti tandanya lu harus mulai belanja lagi, itung-itung kemarin ganti musim, berarti ganti mode."

Jadi, mau menemaniku belanja? Barangkali, sekaligus membayari belanjaanku? *wink*

Labels: ,

17.6.09

Mereka Membuat Aku "Awesome"

Menurutmu, bagaimana sih orang bisa disebut "awesome" - terjemahan bebas aku - orang yang "hebat"?

Buat aku, orang yang hebat adalah orang yang menghargai hidup, mencintai hidup dan memakai hidupnya untuk "menyentuh" orang lain dengan caranya masing-masing. Ini definisi yang aku pakai untuk memberi label "hebat" kepada orang-orang di sekitarku. Aku bersyukur aku dikelilingi orang-orang seperti itu disekitarku. Mereka jugalah yang membuat aku menjadi hebat.

Orang hebat yang berada di lingkaran terdekatku adalah setiap anggota keluargaku dan si abang tentunya. Semua berjumlah 7 orang. Orangtuaku, dan 4 orang adikku yang dengan segala ribut-ribut yang terjadi antara aku dan mereka, mereka adalah adik-adik paling hebat yang aku miliki, dan tentu saja si abang yang selalu bilang,"kekuranganku adalah kelebihanku" itu.

Penghargaan itu juga bisa aku berikan kepada tujuh perempuan yang telah menjadi sahabat dan juga membuat aku menjadi hebat.

Ratna yang aku kenal sejak aku sekolah dasar, seorang teman yang menemani aku melewati begitu banyak hal. Ratna yang hebat karena bisa tahan dengan kecerewetan aku yang bisa jadi mendominasi percakapan-percakapan kami.
Lia adalah teman sebangku yang terlepas dari perbedaan jalur sekolah dan karir selalu bisa memahamiku dan menemaniku berbicara tentang banyak hal, penting maupun tidak penting, dalam hidup ini.
Dindin yang aku kenal sebagai temannya teman malah terbukti malah menjadi salah satu teman terbaikku. Dindin adalah orang dengan talenta dan kreatifitas luar biasa dan kegigihannya dalam belajar banyak hal membuat aku kagum.
Hera adalah teman di masa sekolah yang justru menjadi lebih aku kenal dalam beberapa tahun terakhir. Tulisan dan cara pandangnya membuat aku selalu bilang dia itu hebat.
Unieng adalah teman berbagi di saat aku berada jauh dari tanah air. Unieng adalah pekerja keras yang tahu menikmati hidup dan terlepas dari minimnya komunikasi antara kami berdua, dia tidak pernah berhenti menjadi teman.
Silverlines yang mengajari aku begitu banyak hal, terutama menjadi perempuan dan menikmati serta memanfaatkan segala kelebihan dan kekurangan menjadi perempuan.
Dias, dengan siapa aku menghabiskan begitu banyak waktu dan cerita dari urusan pekerjaan sampai urusan hati. Seorang pekerja keras yang cerdas dan rendah hati.

Menurutku, karena orang-orang hebat inilah aku bisa menghargai diriku sebagai orang hebat:
  • yang menikmati pekerjaanku, terlepas dari ritme kerja yang gila serta segala keruwetan yang sering membuat aku musti minta sesi curcol
  • yang menikmati 4 kali liburan (cukup) panjang selama setahun terakhir, hal langka yang terjadi di lingkungan kerja aku
  • yang menikmati kulit hitam dari sengatan matahari dari liburan terakhir
  • yang menikmati menulis dan mengambil foto yang walaupun dilakukan amatiran ternyata bisa dinikmati oleh orang lain di luar dirinya
  • yang menikmati acara kumpul keluarga, walaupun harus berakhir dengan dompet yang terkuras
  • yang menikmati hari-hari bersama si abang, lengkap dengan semua keributan-keributan kecilnya
  • yang menikmati persahabatan baik dengan mereka yang aku kenal sejak lama tetapi berada beribu-ribu kilometer jauhnya dan juga dengan teman-teman dengan siapa aku menghabiskan hari-hari menyenangkan di kota ini.
Aku pikir, ini adalah hebatnya seorang Diny yang berhasil membuat aku tersipu membaca pujiannya dan membuat aku menuliskan hal-hal hebat ini. Aku pikir, ini adalah latihan yang baik untuk menghargai diri sendiri dan juga orang-orang di sekitar kita.

Karena aku yakin, setiap orang adalah hebat dengan cara pandang masing-masing, kenapa kamu tidak tuliskan kehebatanmu? Kalau pun tidak dipublikasikan, tuliskanlah untuk dirimu sendiri.

Karena, kamu pun orang hebat!

Labels: ,

28.4.09

Potongan Berita Hari Ini

Ketika aku membaca berbagai berita hari ini...



"Our modeling shows sea levels will rise up to 7cm. That will force the relocation of millions". Juzhong Zhuang. The New York Times.

Ketika seorang ekonom berbicara tentang lingkungan dan secara khusus pemanasan global hanya akan mengarah ke satu hal. Uang.

"The Indonesian Medical Association has urged the government to regulate advertisements promoting foreign-owned health services in order to increase public confidence in the local health care system". Fahmi Idris, the chairman. Jakarta Globe.

Ketika kualitas pelayanan kesehatan yang baik tidak lagi dilihat sebagai cara untuk mendapatkan kepercayaan.

"18% of places at UGM are for national exam takers...it's about having the freedom to select our own students". Surya Baskara, Spokesperson for Gadjah Mada University. Jakarta Globe.

Ketika warga negara mencoba mendapatkan hak untuk memperoleh pendidikan.

"Governing the Facebook Service in an Open and Transparent Way". Mark Zuckerberg Note.

Sebuah situs dengan populasi yang terlalu besar dan membutuhkan tata pemerintahan tersendiri?

"I told my father that this is my age of studying in school, and I didn't want to marry". Rekha Kalinda (12). The Huffington Post.

Ketika berita di televisi dan koran dipenuhi dengan kisah pernikahan model putri yang belum lagi 17 tahun dengan pangeran dari negeri seberang.

Labels:

24.4.09

Selami Pikiran. Selami Tulamben.

Pada mulanya…

Sepuluh tahun yang lalu, untuk pertama kali aku mengenal komunitas menyelam sebagai bagian dari pekerjaanku. Orang yang menjadi sumber informasi itu pun dengan semangat mengajak aku belajar menyelam. Waktu itu, aku merasa itu terlalu mahal dan terlalu besar. Pikiran itu aku simpan saja di dalam hati. Empat tahun yang lalu, lagi-lagi karena urusan pekerjaan aku kembali mengenal kelompok selam lain. Kaufik, sebagai sumber informasi utama merupakan orang yang paling semangat mengompori aku untuk ikut belajar. Aku tersulut. Entah berapa kali aku mencoba bergabung di salah satu dari sekian banyak kelas yang diadakan oleh Kaufik. Sampai-sampai aku malu sendiri karena menjadi orang yang cuman omong-omong dan berencana tanpa ada aksi apapun!

Sampai di awal tahun 2007, aku kembali diingatkan dengan keinginanku yang satu itu. Teman masa sekolahku, Unieng, baru saja menjadi salah satu PADI OWSI (Open Water Scuba Instructor) perempuan pertama di Bali. Itu pun baru di awal tahun 2008, aku mulai tanya-tanya untuk mengambil kursus itu. Unieng sudah mengirimkan open water manual sejak awal 2008. Katanya,” Yang penting langsung pegang buku deh.. biar ada feeling kalo udah mulai kursus. haha.“ Dan dia benar, buku itu membuat aku tidak bisa begitu saja membuang ide untuk belajar selam buru-buru. Buku itu selalu aku lihat setiap aku menonton tivi karena aku letakan di jajaran buku persis di sebelah televisi. Tapi, sesekali melihat dan membaca buku itu tidak membuat aku menyelam, bukan?

Saking seringnya aku membuat rencana untuk ambil kursus satu ini, dua bulan lalu mantan boss aku sampai bertanya,”udah jadi ke Bali dan dapat sertifikatnya?”. Ouch. Aku buru-buru buat rencana baru. Kontak Unieng, pesan tiket (walaupun dengan perasaan ketar ketir karena pekerjaan di kantor sedang bertumpuk-tumpuk), dan kembali membaca buku manual dari awal!
Ah, pokoknya tiket sudah di tangan dan ijin cuti sudah diperoleh.


***

Maka terjadilah, perlawanan terhadap diri sendiri!

Untuk pertama kali aku menjejakan kaki di bagian timur Bali. Tiba dini hari, tidak banyak yang bisa aku lihat. Baru setelah bangun dari tidur, aku melihat alam yang indah di depan mata. Hijaunya pepohonan, laut yang tenang dengan air yang bening, pantai berpasir. Sempurna!

Tapi aku disini bukan untuk bermalas-malasan di tepi pantai sambil membaca buku. Aku datang untuk menuntaskan rencana yang sudah terlalu lama disimpan. Menuntaskan open water course, secepatnya!

Aku dan Unieng pergi ke daerah Tulamben, sekitar setengah jam dari Desa Lipah, Amed. Setengah dari materi hari itu berhasil aku selesaikan dengan mudah. Tidak ada masalah. Termasuk mendadak harus belajar mengapung dan melakukannya selama 10 menit tanpa berhenti. Rasa lapar menghentikan kegiatan siang itu!

Kembali ke kolam setelah makan siang ternyata tidak semudah yang aku kira. Ketika Unieng berkata bahwa kami akan mencoba melatih tanda kehabisan udara dan Unieng akan menutup tanki udara aku sebentar, aku langsung lemas. Jantungku berdebar begitu keras. Perutku mual bukan kepalang. Badanku begitu tegang. Walhasil, aku bahkan tidak berani berada di dalam air!
Gila! Betul-betul gila!

Aku bolak balik ke kamar mandi hanya untuk muntah. Rasa mual tidak berkurang. Kembali ke air, jantungku tidak keru-keruan sehingga napasku menjadi sangat tidak teratur. Aku merasa sesak napas. Padahal Unieng dengan sabar terus memberi tanda untuk mengambil napas panjang dan dalam. Satu cara yang paling baik untuk bernapas di dalam air dengan bantuan tanki udara itu.

Pelan-pelan, aku kembali ke kolam, melakukan setiap training satu demi satu. Sulit sekali. Aku nyaris selalu butuh berhenti setelah dua training. Aku menolak untuk masuk ke bagian kolam yang dalam. Ehm, dalam sekitar dua meter saja! Padahal sebelum makan siang, aku sudah berada di bawah sana dengan santai melakukan ini dan itu. Sore itu, aku seperti kehilangan akal sehatku!

Aku bahkan tidak tahan untuk tidak menangis karena kesal dengan diriku sendiri. Aku diberi kesempatan untuk menelepon untuk menenangkan diri. Unieng bahkan menemaniku ngobrol kesana kemari. Aku bisa melihat kelelahan di wajahnya, tapi dia masih tetap tersenyum, menemaniku berbicara.

Aku memang punya ketakutan terhadap ruang tertutup. Aku bahkan tidak bisa memakai helm tipe full-face karena biasanya aku menjadi panic dan bahkan tidak bisa membuka helm tersebut. Aku bisa sesak napas melihat adegan seseorang diceburkan ke air di film-film laga.

Anehnya, itu semua tidak terlihat mempengaruhiku pada sesi pagi sampai siang hari, loh!

Aku mencoba masuk ke kolam kembali. Unieng, sambil tersenyum mengingatkan bahwa semua kepanikanku itu hanyalah sesuatu yang “berlarian dari kuping kiri ke kuping kanan”. Semua hanya bayanganku.

Lewat telepon, Abang bercerita tentang masa-masa pelatihan naik gunung. Abang berbagi cerita mengenai orang-orang yang patah semangat untuk melanjutkan pendakian. Abang juga bercerita tentang pelatih yang membiarkan siswa tergantung di tebing ketika mulai mandek meneruskan pemanjatan.

Ah, betapa pikiran punya kekuatan yang begitu besar! Sugestiku membuat aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk sekedar bernapas dengan tenang pun sulit aku lakukan. Berbagai pikiran melintas, termasuk pikiran untuk menyerah. Aku bahkan menyesali kenapa aku bahkan berminat untuk melakukan hal ini. Mencari masalah untuk diri sendiri. Aku berpikir untuk keluar kolam dan menyudahi semuanya. Tokh, ini harusnya merupakan kegiatan senang-senang. Aku masih bisa menghabiskan sisa hariku dengan bersenang-senang di tepi pantai, snorkeling, atau sekedar berjalan-jalan.

Matahari semakin surut. Kolam semakin gelap. Ketakutanku semakin tinggi. Saat itu ada beberapa orang lain di sekitar kolam. Semua memberikan dukungan penuh kepadaku. Seorang perempuan muda dengan tenang berkata,”it is worthed.” Dia bilang, dia bahkan butuh waktu 5 minggu untuk melakukan apa yang aku lakukan di kolam. Unieng terus memompakan semangat dan tersenyum kepadaku. Tapi dia tidak pernah mengusulkan berhenti atau beristirahat. Unieng terus berkata,”sebentar lagi” atau “satu jam lagi” atau “satu lagi”. Ah!

Ternyata, hari pertama di kolam renang seperti tamparan keras di mukaku. Aku berpikir, bahwa cinta aku pada pantai dan laut serta waktu yang aku pakai untuk mempelajari manual open diver sudah cukup menjadi bekal mengambil kursus untuk open water. Aku tidak pernah berpikir bahwa butuh urusan non-teknis untuk bisa menyelam! Aku harus melawan ketakutan-ketakutan yang hanya ada di dalam pikiranku sendiri. Berlari-lari di antara kuping kiri dan kuping kananku. Pikiran yang begitu kuat, yang mampu membuat aku begitu lemah dan tidak bisa melakukan apapun.

Ketika aku berhasil menyelesaikan semua, badanku terasa lemas. Tidak aku hiraukan senyuman orang-orang di sekitarku. Aku hanya ingin berganti pakaian. Sepanjang perjalanan pulang ke Bayu Cottages, aku kembali memutar kejadian hari itu berulang kali di pikiranku. Aku masih tidak percaya betapa aku begitu ketakutan. Aku begitu lega semua bisa selesai. Aku menyadari bahwa aku baru saja melawan diriku sendiri, melawan pikiran-pikiran yang sering muncul di benakku yang sebetulnya merupakan ketakutan yang tidak diperlukan.

Bukan sekali dua kali, aku begitu bersemangat mengerjakan sesuatu, dan kemudian aku tinggalkan begitu saja karena aku bosan atau karena aku berpikir hal itu terlalu besar. Kejadian di kolam renang mengingatkanku untuk menjaga motivasi, menghiraukan pikiran negatif tidak berdasar, dan menyelesaikan sampai titik penghabisan!

Hari itu, aku tidur dengan satu kesadaran baru. Sebuah cermin besar yang diberikan pada hari itu membuat aku melihat diriku lebih jelas, termasuk melihat betapa aku mudah dibodohi oleh hal-hal yang sebetulnya hanya eksis di dalam pikiranku.



***

Gigitan Ikan Hijau

Pagi itu aku bangun dengan lebih segar. Kali ini, aku memutuskan untuk makan besar dan melupakan untuk sementara kebiasaanku untuk menghindari goring-gorengan. Nasi goreng lengkap dengan buah dan kopi Bali.

Hari itu, untuk pertama kali aku mengintip ada apa di bawah sana.

Beban tangki dan BCD yang nyaris sampai 20 kilogram itu langsung terasa ringan begitu masuk ke dalam air. Tidak ada suara lain kecuali napas aku. Melihat bintang laut hijau yang memukau yang tampaknya berada tidak jauh dari wilayah telur seekor tiger fish. Tidak heran, ikan itu langsung berenang kencang ke arah kami. Aku tidak berani bergerak dan hanya memegang tangan Unieng erat-erat. Tapi tidak ada yang terjadi, dia hanya berusaha mengusir kami. Aku melihat sekumpulan eel, naik dan turun, agak geli tapi menarik. Aku melihat sekilas bekas kapal perang yang karam tersebut. Tidak terlalu jauh, karena itu terlalu dalam dan gelap. Kami berhenti di satu tempat, mencoba mempraktekan beberapa hal dari latihan di kolam. Pada saat itu, segerombolan ikan menghampiri kami. Ah! Sampai-sampai seekor ikan super kecil berwarna hijau mengigit kecil lututku. Ehm, barangkali rasanya enak buatnya.

Hari itu, dua kali aku kembali ke laut. Aku menikmati keduanya, walaupun aku lebih senang ketika aku turun di pagi hari pada waktu matahari sedang cerah, air hangat, laut tampak cerah! Aku menikmati berbagai kehidupan di bawah air. Aku hanya tidak menikmati proses naik ke permukaan. Reverse block, katanya. Kupingku agak sakit. Sehingga kami harus naik perlahan-lahan. Menurut Unieng, barangkali aku ini memang malas untuk naik lagi ke permukaan dan lebih betah ngendon di bawah sana. Bisa jadi, Ning!

Hal yang sama aku lakukan keesokan harinya. Hari ketiga aku di Bali. Masih menyelam di sekitar Tulamben, tapi kali ini aku dibawa ke coral garden. Hari itu, lebih banyak diver berkeliaran, termasuk kapal-kapal yang mengantar para diver. Kami harus berhati-hati. Hari itu, aku menikmati pemandangan yang berbeda. Nudibranch hitam putih, napoleon fish, longnosed unicorn fish adalah sebagian kecil yang aku lihat hari itu. Unieng bercerita bahwa pada saat ramai, bisa ada 300 orang yang menyelam di daerah tersebut!

Hari itu, aku menyelam dengan lebih santai. Aku tokh tidak perlu bawa alat-alat. Seorang porter perempuan dengan gagah membawa tangki kami, berjalan dengan santai dan pasti di atas batu-batu itu. Aku saja mengalami kesulitan untuk berjalan disitu. Disitu memang ada beberapa porter yang siap membantu diver membawa tangki.

Dengan berakhirnya dive aku yang terakhir, berakhir juga kursus yang aku ikuti. Setelah menyelesaikan kuis dan test tertulis yang dilakukan di Bayu Cottages di pagi hari dan melalui 4 kali penyelaman, aku memperoleh open water diver certificate. Gila! Lega banget.

Aku merasa beruntung karena punya teman yang begitu sabar, tenang dan baik menemani aku melewati titik-titik tersulit. Unieng selalu tersenyum, tertawa dan menggoda aku untuk memastikan aku memahami semua aturan yang ada dan terutama memastikan aku menikmati alam bawah laut itu dengan penuh rasa senang. Abang juga tidak berhenti menggodaku dan memompa semangatku. Sampai sekarang, aku masih senyum-senyum mengingat semuanya. Setiap ingatanku membawaku kembali ke Amed dan Tulamben, aku kembali berterimakasih ke Unieng buat kegigihannya. Passion dia terhadap kehidupan bawah laut betul-betul menular!



***

Sampai nanti!

Berat rasanya untuk meninggalkan Amed yang begitu tenang. Pantai yang sepi dan jernih. Bawah laut yang menggoda. Sahabat yang begitu sabar.

Sepanjang perjalanan pulang, aku disuguhi pantai, sawah, gunung dan berbagai keindahan alam. Ah, aku menemukan titik favorit baru di Bali. Ning, sungguh, aku pengen balik lagi.



Labels: , ,

29.3.09

Adiksi

Ketika dokter cantik itu berkata bahwa aku memiliki "adiksi", aku kaget. Tidak pernah terlintas dalam benakku bahwa aku punya kecanduan yang harus dihentikan. Adiksi yang membuat pola makan aku menjadi jelek, dan berarti aku harus melewati masa-masa "sakau", sehingga mood dan konsentrasi aku tidak lagi tergantung kepada coklat dan makanan manis yang nikmat itu.

Informasi ini seperti alarm yang membuat aku bangun dari tidur panjang. Aku hanya mau memperbaiki pola makan dan aku mengharapkan sebuah tabel atau daftar makanan yang membantu aku merencanakan makanan yang harus aku masak sehari-hari, yang boleh dan tidak boleh aku makan. Ternyata, aku harus terlebih dulu menyembuhkan penyebab utama dari kekacauan tersebut.

Adiksi itu datang perlahan dan bahkan tidak pernah aku sadari. Masih jelas di ingatan, bagaimana aku heran ketika dokter tersebut dengan cepat menunjukkan berbagai gejala adiksi tersebut di tengah-tengah cerita mengenai kegiatan aku selama seminggu terakhir. Well, kalau aku sangat tergantung pada rokok, alkohol atau obat-obatan, barangkali aku akan lebih cepat mencari jalan keluar. Tapi siapa sangka bahwa ada begitu banyak hal lain, yang tampak remeh, yang bisa membuat kita mempunyai ketergantungan berlebihan?

Dokter tersebut memberi analogi menarik. Bagaimana demam bisa diturunkan dengan obat penurun demam, tetapi tanpa mengobat sumber penyakitnya maka demam yang merupakan gejala tersebut bisa muncul lagi. Berat badan berlebih atau sangat kurang yang muncul karena pola makan yang buruk bisa jadi merupakan gejala yang tampak di luar. Penyakit sebetulnya tersembunyi dengan baik di balik berbagai gejala tersebut. Ada banyak hal yang bisa menjadi sumbernya, dan bukan tidak mungkin terdapat lebih dari satu sumber.

Kesadaran ini membuat aku punya motivasi baru yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Karena aku mau, aku bisa melalui hari-hariku dengan konsentrasi dan mood yang lebih terjaga tanpa harus tergantung ini dan itu. Kalau dokter itu benar, hari-hari di depan akan kembali seperti menaiki roller coaster mood. Aku harus bertahan, bukan?




Labels:

Pojok Hablay nerima tamu Free Web Counter orang looh!